1 + 1 = 27, Kok Bisa ?

Adibah Rasikhah Amanto
4 min readJan 26, 2021

Part 1 — Tauhid

Bismillahi Masya Allah, Islam dengan indah telah mengatur semua hal dalam agama yang rahamatan lil ‘alamiin ini. Mulai dari baper yang berpahala hingga Kepemimpinan yang ideal sesuai dengan tuntunan tauladan kita, Rasulullah SAW.

Konsep kepemimpinan ini digali dari teladan kepemimpinan para nabi dan rasul. Kepemimpinan Profetik namanya. Konsep kepemimpinan ini berlandaskan pada tauhid. Menjadikan islam sebagai agama berarti berani dan sadar melibatkan Allah dalam segala hal baik dalam pikiran maupun tindakan.

Islam dalam segala perspektif nya, merupakan substansi yang berasal dari Yang Maha Sempurna, kemudian disampaikan firman Nya melalui Al Qur’an melalui utusan Nya Rasulullah SAW beserta sunnah Muhammad. Dengan menerapkan kepemimpinan profetik berarti kita menerapkan nilai-nilai islam dalam proses kepemimpinan kita. Dengan tidak menuhankan apapun kecuali Allah.

Kemudian makna kepemimpinan profetik lebih dalam adalah internalisasi nilai-nilai agama islam dalam keseharian, yang sebenarnya sudah menjadi kewajiban kita sebagai seorang hamba pada awal pertama kesaksian kepada Allah dan Rasul Nya. Tantangannya kemudian adalah, sudahkan kita merubah pikiran, perkataan, dan tingkah laku kita sehingga mencerminkan seorang pemimpin? Nah, di masa internalisasi ini akan menjadi proses pembentukan karakter kepemimpinan yang sesuai dengan tuntunan Nya tadi. Insya Allah.

Part 2 — Living with The Giants

Kepemimpinan profetik dalam Al Qur’an mengandung sebuah pola tentang bagaimana Islam mampu mengantarkan bangsa yang lemah dan terbelakang menjadi bangsa yang besar dan jaya. Melalui seorang utusan yang mampu mengubah situasi dan kondisi menjadi lebih baik dan mengglobal dalam kekuatan tauhid yang sebenarnya.

Bukan lagi sebuah kemustahilan bahwa mereka yang benar-benar menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya dan hidup untuk Nya, akan besar bersama dengan Dia Yang Maha Besar. Itu adalah janji Allah dengan menjadikan kita sebagai umat terbaik apabila kita taat dalam berbuat kebaikan (ma’ruf) dan mencegah dari keburukan (munkar), QS Ali Imran 110.

Sejak lahir kita adalah pemimpin dan pemenang. Kita dilahirkan untuk menjadi problem solver bagi bangsa. Senantiasa berpikir dan berperilaku besar, karena kita dengan visi ilahiyah kita adalah bersama Allah, melibatkan segala sesuatu dengan Allah didepannya. Jangan hanya terjebak dengan rutinitas duniawi tanpa visi ilahiyah hingga ke surgawi. Tersisa dua puluh bulan lagi untuk kembali dan memfokuskan diri dengan Dia Yang Maha Besar dalam setiap gerak langkah.

Laksana yang dicontohkan oleh para pendahulu kita, para rasul dan anbiya. Mereka yang tak hanya amanah, namun juga berilmu da kuat. Kuat dalam hal tak hanya fisik namun juga hati. Menjadi besar dengan Allah Yang Maha Besar — Livng with giants.

Part 3 — Membangun Peradaban

Para pendahulu kita sadar benar akan pentingnya tauhid dan Laaillaha ilallah. Tak hanya sekedar diucapkan lisan namun juga harus terinternalisasi dalam jiwa dan pikiran. Menjadi basic segala tindakan dan keputusan. Kalimat itulah yang kemudian mampu membangun peradaban. Secara khusus kepemimpinan profetik memeberikan pola tentang bagaimana bangsa yang besar adalah bangsa yang berhasil menginternalisasi Laaillaha ilallah dalam segala aspek kebangsaannya. Sebaliknya, mereka yang menolak paham dan sadar adalah mereka yang kelak akan jatuh dan hancur bersama nafsu dunianya.

Memetik dari kutipan Prof. Kuntowijoyo yang menyebutkan bahwa ilmu social profetik dalam QS Ali Imran ayat 110 membawa 3 konsep besar yaitu humanisasi, liberasi, dan transedensi. Humanisasi atau memanusiakan manusia adalah dengan mengembalikan mereka kepada firtahnya masing-masing, yaitu dengan menjadikan manusia untuk bertanggung jawab atas apa yang telah dikerjakannya.

Liberasi atau memerdekakan manusia, yaitu dengan mengorganisir dan memerdekakan kebaikan secara bersama-sama. Karena kebaikan yang tidak terorganisir akan mudah dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir. Di sinilah kunci utama dalam beragama, berbangsa, dan berjamaah tersadarkan.

Part 4–1 + 1 = 27, Kok bisa ?

Matematika Allah bukanlah seperti matematika kita yang rigid dan julid, serta menuntut untuk selalu konkrit. Itulah mengapa tiga ratus tetap berjaya daripada seribu. Itulah kenapa satu tangan diatas mendatangkan tujuh ratus lipat kebaikan bersamanya, dan itulah mengapa satu ditambah satu bukan dua, tetapi dua puluh tujuh.

Allah Maha Memberi dengan segala ketetapan Nya. Hanya terkadang manusia yang masih merasa kurang, dan itu naluri kita memang. Naluri yang niscaya mampu kita genggam ketika kita sudah mampu menginternalisasi Laaillaha ilallah dalam hati dan jiwa kita.

Kembali ke konteks kebaikan yang terorganisir, disebutkan bahwa kita kemudian, harus berani berkonflik dengan orang-orang jahat. Tidak selalu baik apabila orang baik itu selalu diam saat melihat kemudharatan yang banyak mengambil peran. Kejamaahan adalah kunci dalam pergerakan, perubahan, peradaban.

Selanjutnya adalah transendensi, melangitkan manusia. Makhluk tanah ini memang berasal dari tanah, dan akan kembali ke tanah. Namun nenek moyang kita menempati tempat asal dari muasal sebenarnya, yaitu surge. Yah, kita harus ingat bahwa kita berasal dari surga dan misi kita di dunia ini tak lain dan tak bukan adalah menabung amal sebanyak-banyaknya dengan berdakwah dan berkontribusi dalam kebaikan. Menjadi istiqomah dalam kebaikan dimanapun dan kapanpun, tak peduli tempat kita berada.

Kesadaran dan visi ilahiyah ini yang mampu menggerakkan hati dan bersikap ikhlas terhadap sesuatu yang sudah dilakukan dan ditetapkan oleh Nya. Visi dan kesadaran yang dibangun lewat karakter selama masa asrama juga bukan hal yang mudah. Walau sejatinya karakter kita akan terbentuk jika kita dekat dengan Allah, misalnya dengan terbiasa bangun sebelum shubuh untuk qiyamullail berjamaah. Ingat dalam QS Al Mudatsir tentang bangaimana perintah Allah untuk menyingkirkan selimut dan memulai aktivitas. Mudahnya, kita tidak akan bisa menjadi pemimpin profetik apabila masih berat saat menyingkirkan selimut.

Part 5 — Ilmu dan Amal

A Leader is a Reader. Kita tergantung dari apa yang kita baca. Ilmu adalah salah satu dari tiga hal penting dari seoran pemimpin profetik disamping kuat dan amanah. Dengan ilmu menjadi bekal kita dalam beramal, membedakan mana yang baik dan benar. Menambah ilmu adalah kewajban membagikannya juga sebuah keharusan, agar bertambah dan tak berkarat dalam pikiran. Seorang pemimpin profetik harus banyak membaca dan mendengarkan agar mampu berproses dalam membangun pribadi dan peradaban yang kuat, berilmu, serta amanah.

Tugas terakhir dari seorang pemimpin adalah mencetak pemimpin selanjutnya yang jauh lebih hebat dari dirinya. Yaitu dengan melakukan regenarasi dan kaderisasi yang sistematis sejak dalam pikiran. Menanamkan kebaikan yang terorganisir dan berlandaskan pada Al Qur’an, mencetak generasi Rabbani.

--

--