Dear Overthinkers,

edited by canva.com

Di dunia yang overwhlemed ini bisa membuat seorang menjadi overthinkers. Bahkan dari yang less-thinkers menjadi banyak khawatir untuk hal-hal tertentu. Teknologi yang menjadikan dunia borderless country membuat privasi individu semakin samar bahkan tidak ada.

Tanpa disadari social media telah memunculkan banyak budaya kekinian melahirkan generasi ‘millenial’. Seperti budaya konsumerisme, material posession, terlalu banyak hal yang akan dilakukan karena menilai multi-tasking adalah hal keren, serta terlalu banyak distraksi seperti notifikasi yang sering menganggu fokus tujuan.

Kalau kata Desi Anwar pada sebuah interview bahwa kita hidup di mana identitas kita sering dikaitkan dengan materi atau sensasi, sehingga tak sedikit manusia semakin insecure. Padahal sering kita lupa bahwa ‘happiness is state of mind not the material things’. Bahkan definisi kebahagiaan setiap orang itu sering berbeda. Seringkali kita kehilangan atau sengaja menghilangkan definisi tersebut karena pengaruh less-private tadi.

Sekilas aku berpikir tentang bagaimana memperbaiki mindset untuk kembali sehat secara mental. Sederhananya lawan dari konsumerisme adalah minimalis.

Kata hidup minimalist belakangan ini kembali menyeruak. Sebenarnya ini bukan hal baru, sejak tahun 2015 seorang pakar berbenah dari jepang, Marie Kondo sukses mengglobalkan seni hidup minimalis lewat bukunya ‘Konmari’. Buku yang akhirnya membuahkan series Netflix dengan Tyding Up with Marie Kondo awal Januari 2019.

Pakar beres-beres, sebenarnya Konmari lebih dari sekedar beberes perabotan dan stuff pribadi. Seni beres-beres yang disebut juga dengan decluttering ini mengajak kita menata ulang dinamika dengan benda mati pada tingkat emosional, bahkan spiritual (Dee Lestari).

Beberapa hal yang bisa ditanamkan untuk mengurangi overthinking lewat seni hidup minimalis, misalnya fokus pada tujuan. Perspektif ini diperoleh Marie ketika jatuh sakit setelah banyak mensortir barangnya, ia yang diawal lebih fokus pada menyingkirkan barang lalu mengganti menjadi fokus ke barang yang disimpan.

Dengan kata lain fokus kepada barang yang lain, dengan mensyukuri hal-hal yang penting bagi diri sendiri lalu membuang hal-hal yang sudah tidak bermanfaat. Disini kita juga belajar tentang bagaimana membedakan kebutuhan dan keinginan.

Belajar lebih menghargai value barang, bukan cost nya. Karena cost per use akan turun untuk barang-barang statis, seperti barang branded, kendaraan, dan lainnya. Merapikan barang ternyata bisa mengajarkan kita menghindari sifat konsumerisme dengan lebih bijak spending money atau investasi.

Berbicara tentang konsumerisme, tentu budaya ini lebih dekat dengan istilah makna ‘menyimpan’ atau membeli barang untuk memuaskan sifat berlebihan. Seringkali ini menjadi trend yang diikuti generasi masa kini. “Menyimpan” adalah istilah menjebak, piawai menyimpan atua membeli sama saja dengan menimbun.

Hal ini lalu dikaitkan dengan mindset. Bagi overthinkers, seringkali lebih fokus pada hal-hal yang tidak perlu sehingga meningkatkan kecemasan dan emosi negatif. Emosi negatif ini yang akan menimbulkan kesulitan dalam menghadapi hari, basa kerennya insecure. Overthinking termasuk pemikiran yang tidak produktif.

Lalu bagaimana untuk meng-konmari mindset. Hal sederhana dengan membereskan barang yang tampak, atau stuffs pribadi. Membereskan koleksi yang tidak banyak membawa manfaat, dan memfokuskan pada hal-hal yang bermanfaat.

Sebuh platform teman berpikir yang sering saya lihat, bernama 1% menjadikan digital minimalism sebagai langkah awal untuk memulai gaya hidup minimalis. Dan sebagai mantan overthinkers, hal ini sangat membantu. Digital minimalism memfokuskan kita untuk bisa menyaring konten pilihan yang akan sering kita lihat sehari-harinya. Sehingga langkah unfollowed bisa menjadi alat decluttering yang membantu.

Selamat mencoba meminimaliskan mindset untuk kesehatan mental yang lebih baik.

https://deelestari.com/review-the-life-changing-magic-of-tidying-up/

https://www.youtube.com/watch?v=P_AyFXy1sn0

--

--

-Food Studiest Enthusiast, Nutritionist Student. 24/7 eating and writing, but still have normal life.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
adibah amanto

adibah amanto

6 Followers

-Food Studiest Enthusiast, Nutritionist Student. 24/7 eating and writing, but still have normal life.