Reduce of Exsistence

Baru-baru ini ada seorang temen lama, yah gak juga sih. Setidaknya sudah lebih dari setahun kita tidak bertemu. Aku lebih sering menyebutnya sebagai solusi sobat sambat. Walau dia tidak tahu julukannya olehku ini diberikan bukan hanya karena kita sering bertukar cerita. Atau lebih tepatnya dia suka bercerita dan aku mendengarkan, walaupun begitu dia adalah pendengar yang baik. I think she is INFJ, aku rasa aku butuh bertanya.

Suatu hari seorang teman memberitahuku jika ia sangat aktif dengan emailnya. Dan tentu saja seperti dugaanku, seluruh akun sosial medianya (tentu tidak semua sosmed), yang sering menjadi tempat kami bertukar kata kini sudah tidak aktif. Kalau dipikir-pikir sekilas, dia mirip seperti salah seorang dosenku yang hanya bisa dikontak lewat email (walau kini bu dosen juga sudah memiliki WA).

Rasanya menarik, aku belum pernah berkomunikasi kecuali urusan profesional lewat email. Rupanya tak jauh beda, seteah dicoba. Gaya bahasanya masih seperti saat kami chat lewat WA atau line. Tapi tentu saja, tidak umum bagi seseorang untuk hanya menyampaikan haha aatau wkwk lewat email. Setidaknya effort yang kau gunakan akan lebih besar dan menurutku sayang saja jika hanya membalas hehe.

Percakapan kita lebih tepatnya, menjadi seperti pertemuan offline biasa di kamar asrama.

Dia adalah sosok yang pandai membaca situasi, walau sering melibatkan banyak kesadaran orang disekitarnya. Terlebih dia adalah sosok yang bisa mebaca dirimu, terkadang saat kamu tidak mampu membaca bagian dirimu, atau kau sengaja menutupinya. Dia akan membukanya dengan jelas, walau terkesan blak-blakan, tapi setelah itu biasanya kau akan merasa lega.

Satu bulan ini kami sering berbicara tentang kesadaran. Dan karena ini memang jujurly, aku sedang mamsuki fase unutk harus mengenal diri sendiri. Rasanya aneh saja jika kita secara tidak sadar hidup dan kemudian tidak melakukan hal apapun.

Kalau dalam filsafat hidup bersama, kita mengenal bahwa manusia itu sejatinya memiliki lima dasar kebutuhan.

Ada kebutuhan identitas, kebutuhan relasi, kebutuhan transedensi, kebutuhan eksistensial, dan kebutuhan orientasi.

Kelimanya sulit dijelaskan karena aku sendiri juga tidak paham.

Tapi dari sini aku mulai bisa manarik kesimpulan sederhana, bahwa menemukan dirimu adalah bukan tugas orang lain. Selama ini mungkin aku merasa menjadi sosok yang terlalu oversharing dengan hal apapun. Terutama kehidupan kampus yang sebenarnya banyak orang juga mengalami hal yang sama. Atau tentang bagaimana setiap detik setiap pieces pengalaman, pengajaran, dan pembelajaran, dan pe-an2 yang lain itu kutemui dan aku menyadarinya.

Aku ingin berbagai, hal-hal yang tidak ingin membuatku merasa tinggi. Merasa penting, merasa diperhatikan, atau merasa dibutuhkan. Secara tidak sadar, hari ini, saat ini, banyak orang, termasuk gua, menggeser arti eksistensial kepada hal-hal kecil yang itu tidak berdampak. Emang awalnya apa dib? Yah awalnya ga jelas arti eksistensial/ keberadaan lu di dunia ini. Tapi gak semua yang eksis itu berguna kan? I mean like, gua pikir tingkat eksistensial ini harus dinaikkan menuju level ketergunaan, eh apa sih, kebermanfaatan.

Misal nih gua gak pernah tahu kalo gunting itu eksis di meja belajar gua, sampai suatu hari gua butuh untuk memotong kertas, dan akhirnya gua nemu tuh si gunting. Saat itu gua menyadari eksistensi atau keberadaan si gunting. Berarti dari sini kita bisa tarik makna eksistensi bahwa dia tidak akan disebut eksis atau ada apabila dia memberikan manfaat atau dampak.

Bahkan dampak negatif sekalipun. Misal nih, ada seorang perampok bersembunyi di sebuah kampung. Gak bakal ada yang sadar akan keberadaan si perampok sampai ia malancarkan aksi merampoknya. Dan yah, itu impact, dampak dari keberadaan si perampok.

Tapi apakah seorang perampok akan selamanya merampok? Tentu tidak, julukan itu hanya digunakan ketika seseorang telah atau sedang menyelesaian sebuah kegiatan bukan? Tapi jika si (orang yang mau menjadi) perampok tadi datang ke mushola dan melaksanakan solat dua rekaan sebelum subuh, mungkin eksistensinya bukan disadari sebagai perampok, tapi lebih ke seorang hamba sahaya.

Jadi kalau dipikir secara sederhana, eksistensi kita atau keberadaan kita itu tergantung pada apa yang akan, sedang, dan telah kita lakukan. Yeah, it depends on purpose, impact, dan result.

Ketika ngepost sesuatu di sosmed, tidak langsung orang tersebut bisa disebut eksis, itu tergantung dari tujuan dia nge post, dampak dari postingannya, dan hasil dari dia memposting. Jika itu hanya sebatas puas saja, apakah bisa disebut orang itu sudah eksis. Okelah ya, dia eksis karena dia puas atas hasil postingannya di like misal 1000 orang. Ya udah, dampakanya apa? Ya, si orangnya bahagia, bangga, ya udah berhenti disitu.

Atau ketika ia posting dan dia menyisipkan satu dua value hidupnya, misalnya untuk agar bisa menginspirasi banyak orang. Ya udah, niat begitu, habis itu apakah kita bisa mengukur dampak dari postingan tadi? Dari like, comment, atau subscribe. I don’t really know. Hanya orang itu yang bisa menentukan.

Yah, sekian podcast hari ini, semoga bisa membuang waktu kalian, ketempat yang lebih baik. See you salam sambat.

--

--

-Food Studiest Enthusiast, Nutritionist Student. 24/7 eating and writing, but still have normal life.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
adibah amanto

adibah amanto

6 Followers

-Food Studiest Enthusiast, Nutritionist Student. 24/7 eating and writing, but still have normal life.