Superfood Returns : KELOR

Pernah dengar KELOR? Semacam tanaman yang mulai naik daun sejak beberapa tahun lalu berhasil menyelamatkan ribuan jiwa dari gizi buruk di propinsi Nusa Tenggara, Indonesia. Tanaman tropis yang berasal dari India ini sudah mudah tumbuh dan dijumpai di Indonesia.

Anti-crisis plant, tanaman anti krisis, begitulah beberapa pakar menyebutnya. Tentu saja karena tanaman kelor mudah tumbuh pada semua jenis dan tahan musim kering dengan toleransi kekeringan hingga 6 bulan. Bahkan WHO (World Health Organization) telah memperkenalkan kelor sebagai salah satu pangan alternatif untuk mengatasi malnutrisi di seluruh dunia.

Memiliki julukan sebagai Miracle Tree, Mother’s best friend, World’s most valuable multipurpose tress menjadikan kelor naik daun di kalangan masyarakat tak terkecuali Jogja. Beberapa restoran khusus menghidangkan tanaman ini dalam beragam olahan masakan. Ada botok kelor, pepes kelor, sop kelor, bahkan the kelor. Hal ini tak jauh dari kandungan gizi dan manfaat alamiah semua bagian kelor. Persis seperti tanaman kelapa, bedanya ia dapatn tumbuh di beragam jenis tanah.

Berasal dari genus Moringa dan spesies Oleifera, daun kelor memiliki bentuk telur dengan tepi daun rata dan kecil ukuran majemuk dalam satu tangkai. Daun hijau tua yang bertekstur agak kaku biasanya dapat dibuat tepung daun kelor. Sementara untuk konsumsi daun kelor biasanya digunakan bagian yang masih muda. Tepung daun kelor dapat digunakan untuk diversifikasi pangan atau tambahan dalam bahan pembuat roti. Roti tinggi nutrisi, khususnya.

Zat besi dalam daun kelor tergolong lebih tinggi dibandingkan sayur baisanya, sekitar 17,2 mg/100 g. Beberapa zat gizi yang terkandung di dalamnya seperti karbohidrat, protein, lemak, asam amino, mineral, vitamin juga sangat bermanfaat bagi tubuh.

Beberapa bahan aktif (bioaktif) dalam daun kelor adalah tannin, saponin, dan fenol. Tanaman ini juga memiliki bahan aktif sebagai antioksidan, seperti vitamin A, vitamin C, vitamin E, vitamin K, vitamin B, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3, vitamin B6, flavonoid, dan polifenol sebagai antimikrobia. Tak ketinggalan mikronutrien seperti zat estrogen beta sitoserol, besi, kalium, fosfor, dan tembaga sehingga tak jarang kelor sering digunakan sebagai bahan pengobatan kesahatan dalam bentul suplemen tambahan makanan.

Sumber :

Aminah S, Tezar R. Muflihani Y. 2015. Kandungan Nutrisi dan Sifat Fungsional Tanaman Kelor (Moringa Oleifera). Jakarta Selatan: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta.

Ganatra T, Joshi U, Bhalodia P, Desai T, Tirgar P. 2012. A Panoramic Vieo on Pharmacognistic, Pharmacological, Nutritional, therapeutic, and Prophylatic Values of Moringa Oleifera Lam. India: International Research Journal of Pharmacy (RJP).

Kurniasih. 2013. Khasiat dan Manfaat Daun Kelor. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Yamaeogo W, Bengaly D, Savadogo A, Nikeima P, Traore S. 2011. Determination of Chemical Composition and Nutrition values of Moringa oleifera Leaves. Pakistas Journal of Nutrition.

--

--

-Food Studiest Enthusiast, Nutritionist Student. 24/7 eating and writing, but still have normal life.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
adibah amanto

adibah amanto

6 Followers

-Food Studiest Enthusiast, Nutritionist Student. 24/7 eating and writing, but still have normal life.